Resensi Film : Budi Pekerti

 

Resensi Film Budi Pekerti

 

Identitas Film

·         Judul Film                         : Budi Pekerti ( Inggris: Andragogy)

·         Genre                                : Drama

·         Durasi                                : 1 jam 51 menit

·         Rating Usia                       : R13+

·         Sutradara                           : Wregas Bhanuteja

·         Penulis                               : Wregas Bhanuteja

·         Penata Musik                     : Yennu Ariendra

·         Sinematografer                  : Gunnar Nimpuno

·         Penyunting                        : Ahmad Yuniardi

·         Perusahaan Produksi         :Rekata Studio; Kaninga Pictures

·         Pemeran:

1.      Sha Ine Febriyanti sebagai Bu Prani

2.      Angga Yunanda sebagai Muklas

3.      Prilly Latuconsina sebagai Tita

4.      Dwi Sasono sebagai Pak Didit

5.      Omara Esteghlal sebagai Gora

·         Tanggal Rilis                     : 9 September 2023 (TIFF), 25 Oktober 2023

   (Jakarta Film Week), 2 November 2023 (Indonesia)

·         Negara                               : Indonesia

·         Bahasa                               : Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa

 

Sinopsis

Film berjudul Budi Pekerti tengah ramai ditonton oleh semua khalayak. Film ini ditayangkan di bioskop pada kuartal keeempat tahun 2023 yaitu mulai pada tanggal 2 November 2023. Film ini disutradarai oleh Wregas Bhanuteja dan memilki beberapa pemeran utama yang sudah dikenal masyarakat sebelumnya. Pemeran utama film ini yaitu Sha Ine Febriyanti sebagai Bu Prani, Dwi Sasono sebagai Pak Didit, Angga Yunanda sebagai Muklas, dan Prilly Latuconsina sebagai Tita.

Film ini awalnya mengisahkan seorang tokoh bernama Pak Didit yang sedang menghadapi masalah keuangan disebabkan ketidaksengajaannya membeli otopet dalam jumlah banyak. Pak Didit merasa frustasi dan akhirnya menyebabkan dirinya menderita sakit bipolar dan mengharuskannya berobat ke rumah sakit ditemani istrinya bernama Bu Prani. Dokter Pak Didit ternyata sama dengan Gora muridnya dahulu. Hal ini menyebabkan Bu Prani dan Gora bertemu di rumah sakit tersebut. Bu Prani dikisahkan berprofesi sebagai guru BK yang sedang dalam tahapan naik jabatan menjadi wakil kepala sekolah. Bu Prani terkejut saat dirinya pulang mengajar yaitu suaminya Pak Didit di kamarnya hampir saja akan mengakhiri hidupnya karena menyerah karena masalah keuangan. Akhirnya Bu Prani berhasil menggagalkan rencana bunuh diri seuaminya dan menawarkan makanan putu buatan Mbok Rahayu. Bu Prani awalnya memerintahkan anaknya membelikan putu tetapi, anaknya tidak berkenan dan Bu Prani akhirnya membelinya sendiri.

Bu Prani pergi ke pasar dengan menaiki otopetnya. Sesampainya di depan Putu Mbok Rahayu munculah permasalahan yaitu Bu Prani mendapatkan nomor antrian tetapi, antriannya didahului oleh orang lain. Bu Prani menasehati bapak-bapak yang menyerobot antrian putu. Namun, nasihat Bu Prani tidak diterima dengan baik melainkan bapak tersebut tidak terima dengan perkataan Bu Prani yang memfitnahnya menyerobot antrian. Bu Prani tersulut emosinya dan  mengatakan “Ah, sui” atau dalam bahasa Indonesia berarti Ah, lama. Orang yang ada dipasar tersebut spontan merekam video keributan antara Bu Prani dengan bapak-bapak tersebut. Anehnya video tersebut saat diunggah dimaknai bahwa Bu Prani mengatakan “Asui”. Vidio Bu Prani mengatakan “Ah, Sui” yang menjadi “Asui” tersebut viral dan tersebar hingga diketahui oleh para siswa dan pihak sekolah. Imbasnya Bu Prani gagal untuk diangkat menjadi kandidat wakil kepala sekolah. Kedua anak Bu Prani yaitu Muklas dan Tita mencoba berbagai cara untuk mengatasi masalah Bu Prani tersebut. Masalah Bu Prani akhirnya mereda.

Masalah telah mereda muncul permasalahan baru lagi. Masalah kali ini bermula pada unggahan Gora yang merupakan siswa Bu Prani dahulu. Gora semasa sekolah dinilai memilki sifat nakal ketika di sekolah. Akibat kenakalannya Gora, Bu Prani memberikan hukuman refleksi Gora yaitu sebagai tukang gali kubur. Saat Gora menjalani hukumannya Bu Prani melakukan Vlog. Vlog tersebut diunggah dimedia sosial kemudian menjadi viral karena Bu Prani dianggap sebagai guru psikopat. Pihak sekolah dari bu Prani telah mengetahui permasalahan baru ini. Bu Prani mencoba mencari solusi dan tak terduga dirinya mendapatkan bantuan dokter psikolog bernama bu Tunggul dengan rencana sengaja mempertemukan antara Gora dan Bu Prani untuk menyelesaikan masalahnya. Saat Gora selesai melakukan sesi jadwal periksanya di rumah sakit, Gora meliat Bu Prani sedang menemani suaminya periksa. Gora spontan tiba-tiba mengajak Bu Prani untuk mengobrol di kuburan. Bu Prani dan Gora membicarakan masalah yang sedang dialami Bu Prani dan akhirnya menemukan titik terang. Gora dipanggil oleh Kepala Sekolah untuk membuat video dengan alasan bahwa mentalnya tidak terganggu akibat hukumannya Bu Prani. Gora menolak membuat video klarifikasi dengan alasan kalau ia membuat video klarifikasi pengguna sosial media pasti akan terus mencari kesalahan-kesalahan baru Gora ataupun Bu Prani lebih dalam. Langkah solusi yang diberikan pihak sekolah antara lain Gora tetap membuat video klarifikasi atau Bu Prani mengundurkan diri dari sekolah. Bu Prani mengambil keputusan dengan mengundurkan diri dari sekolah dan pulang ke rumahnya di Kulon Progo. Hal ini didasari Bu Prani tidak ingin merugikan semua pihak.

 

Kelebihan Film

Film Budi Perkerti memiliki kelebihan jalan cerita yang dihadirkan sangat bagus dan menarik. Terlihat dari cerita yang realistis menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini dalam menggunakan media sosial . Film ini mampu menggambarkan bahwa masyarakat cenderung mempercayai mentah-mentah video yang viral tanpa mencari tahu kebenaran atau kenyataannya. Film ini dibaluti dengan banyaknya nilai budi pekerti yang tergambar dan membahas mengenai kesehatan mental. Film ini juga memuat unsur komedi yang pastinya dapat membuat penonton tertawa pada tokoh Muklas saat membuat Vlog. Film ini juga menghadirkan rasa terharu akan perjuangan Ibu Prani dalam memberikan didikan kepada anak-anak yang budi pekertinya kurang. Film ini juga mengajarkan arti pengorbanan yang dilakukan oleh seorang guru yang rela mengundurkan diri agar nama baik sekolah tetap terjaga dan tidak merugikan pihak manapun. Sinematografi dan pengambilan gambar yang dilakukan pada film ini sangat bagus dan menggambarkan  khas kota Yogyakarta. Kelebihan yang lain adalah film ini memuat subtitile saat para tokohnya mengucapkan bahasa jawa, sehingga penonton yang tidak bisa berbahasa jawa masih dapat membaca terjemahannya.

 

Kekurangan Film

Kekurangan film ini yaitu akhir film ini seperti belum selesai karena hanya ditunjukkan adegan Bu Prani dan keluarga pindah ke Kulon Progo, tidak ada resolusi lengkap terkait masalah yang dialami Bu Prani. Hal ini akan membuat penonton bertanya apakah akan ada kelanjutan dibagian kedua. Kekurangan film ini yang lain adalah kurangnya backsound lagu di beberapa scene. Backsound lagu ini dapat berfungsi agar memperkuat feel penonton dalam beberapa scene, namun film ini dibeberapa scene penting tidak ada backsound lagu. Kekurangan film yang lain adalah menggunakan kata kasar, sehingga film ini tidak layak untuk ditonton anak dibawah umur.

 

Kesimpulan

Film ini sangat relevan untuk ditonton oleh semua orang terkecuali anak dibawah umur karena mengangkat isu permasalahan yang sedang aktual. . Film ini cocok untuk ditonton saat ini karena sesuai dengan rendahnya moral masyarakat dalam berperilaku media sosial. Film ini mampu memberikan pengajaran bagaimana cara bijak bermedia sosial. Pengajarannya meliputi bijak dalam berkomentar, membaca suatu hal dimedia sosial dengan seksama agar tidak salah persepsi dan tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal viral yang belum diketahui kebenarannya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Puisi #2 : Sajadah Panjang Karya Taufiq Ismail

Resensi Film #1: 20th Century Girl

Analisis Cerpen #1 : Laki-Laki Sejati Karya Putu Wijaya